Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts

August 15, 2021

Susa Tidur

Saya hampir ga pernah berfikir kena penyakit ini. Eh bukan penyakit sih, lebih tepatnya mengalami hal ini. Sulit tidur.

Sejak SMA, tidur larut sudah menjadi kebiasaan saya. Misal ngerjain tugas, main PES, nongkorong minum bandrek, makan sate padeh, sampai nonton Champions League, padahal sudah tau besoknya masih sekolah. Emang beneran deh ini UEFA, sepertinya memiliki tendensi buruk untuk tidak mencerdaskan kehidupan anak-anak Asia. Kok OOT bang?

---

Dulu sempat mikir, kenapa orang bisa sulit tidur ya? Sampai harus beli obat tidur. Lah, tinggal tiduran, picing mata, beberapa menit kemudian tidur. Tidak ada susahnya. Bahkan mungkin bisa tidur dalam posisi duduk khotbah Jum'at. Eh?

Dan akhirnya, saat usia 28 tahun, saya mengerti. Sulit tidur itu permasalahan orang dewasa. 


Berdasarkan hasil riset, susahnya tidur ini didominasi oleh banyak pikiran. Bisa tentang kuliah, pekerjaan, rumah tangga, finansial, hingga rasio gini daerah. Menurut saya, hal ini ga valid. Coba bayangin jika hidup tanpa masalah diatas, Pegadaian bisa bangkrut. Maap tolong abaikan

Untuk mengatasi permasalahan ini, saya udah mencoba berbagai cara seperti tidur ala militer, metode 4-7-8, stretching, makan, mengosongkan pikiran, relaksasi wajah, menjauhkan smartphone, sampai setorin mata ke kipas angin. Hasilnya tetap saja ga bisa tidur. Padahal, mata ini lelah dan minta tidur.

Perasaan aneh ketika tiduran di kasur, mata merem, tapi ga tidur. Hal yang seperti ini bikin overthinking dan akhirnya saya memilih untuk membuka laptop lagi mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan alias yutupan. Overthinking itu berat, biar Pak Luhut saja.

Mungkin selanjutnya yang perlu saya coba adalah olah raga. Soalnya, kalau olah data kerjaan tiap hari.

Ada teman-teman yang kesulitan hidup eh tidur juga?

March 13, 2021

Pedas atau Enak?

Mungkin sekitar 99,5%* populasi penduduk bumi suka makan makanan enak, sisa-nya terobsesi makan makanan yang aneh 😅

Adakah 0,5% penduduk planet namec bumi itu membaca tulisan ini? 

---

Let's talk about those 0,5% people. Aneh ini menurut saya orang yang mencari kenikmatan makan dengan makan makanan aneh seperti makan kalelawar, ikan cupang atau buaya darat. Yha, you named it lah, ada banyak banget makanan aneh beredar di galaksi bimasakti ini. 

Makanan enak

Akhir-akhir ini, pendapat saya tentang makanan aneh itu meluas hingga orang yang doyan makan pedas. Ga ada yang salah emang dengan makanan pedas, la saya juga doyan banget nyambel. Tapi, yang ga habis pikir ada yang lebih mengutamakan pedas daripada enak. Nah itu yang menurut saya out of mind banget. 

Ketika makan makanan pedas tapi enak, it's sangat ok. Menambah nafsu makan emang. Lain hal kalau abis ditelpon debt collector ya, mana ada napsu makan itu mah. Tapi  ketika makan yang penting pedes mah, makan cabe rawit merah doang juga pedes gitu ga perlu dimasak.

Makanan pedas tapi enak

Saya pernah makan ayam penyet, sambelnya pedas banget. Tapi rasa-nya itu ga ada alias hambar. Cuma rasa tidak enaknya itu ditutupi dengan penggunaan cabe yang banyak. Dan menurut saya banyak sekali yang seperti ini. Spicy first, delicious later.

Ga heran, mengapa sekarang lebih banyak warung yang me-highlight pedasnya, daripada rasanya. 

Perlu diperhatikan juga, makanan pedas ada juga bahayanya, seperti maag, insomnia dan menguransi sensitifitas lidah. Lengkapnya bisa baca link berikut ya: Bahaya Konsumsi Makanan Pedas Bagi Tubuh.  

Sebaliknya, mengkonsumsi makanan enak, rasanya tidak ada efek samping selain menipisnya dompet karena biasanya cenderung lebih mahal daripada makanan pedas. Tidak berlaku untuk keturunan keluarga Cendana ya.

Oiya, buat yang doyan pedas, bisa cobain Carolina Reaper ini.

---

Menurut saya makanan enak itu emang debatable, karena lidah orang itu terbentuk dari kebiasaan, lokasi geografis, ketersediaan barang, dan tebal tipisnya dompet. Tapi saya pikir makanan tidak enak itu mutlak. Dan pedas-pun makanan tersebut tidak dapat menutupi rasanya.

Jadi pilih makanan enak atau pedas? Kalau saya sih makanan enak dan gratis 😅 

* Berdasarkan pendekatan non-personal terhadap data-data tersier yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

March 9, 2021

Jual Diri Berkualitas

Lagi-lagi judulnya mengundang napsu ingin pukul meningkat tajam ya, maklum iseng sambil nembak-nembak keyword gugel 😅

Pada tulisan kemarin, saya tidak mau mengubah alamat blog ini menjadi TLD untuk melakukan jual backlink. Kemudian, Google AdSense juga tidak termasuk pilihan saya karena saya fans garis keras adblock sejak jaman SBY (maklum, masih muda). Selain itu juga penambahan Ads di blog itu saya rasa, secara amat sangat subjektif, membuat tampilan blog menjadi tidak sedap dipandang sebelah mata. Posisi Adsense untuk mendapatkan pendapatan, saya letakkan di paling bawah.

Beberapa alternative lain seperti placement ads itu menurut saya cukup oke, karena kita punya kendali terhadap desain iklan sesuai dengan konten ataupun desain blog kita. Sayangnya, ga ada yang mau letakin ads beginian di blog saya ngakak.

Contoh penerapan backlink bagi kehidupan

Jadi saya mikir, bagaimana cara mendapatkan uang melalui blog ini? Ternyata, kata senior waktu ospek itu benar, “Apabila poin 1, 2, 3 salah, maka kembali ke poin pertama. Kemudian saya kembali ke paragraf pertama eh kedua yaitu, jual backlink.

---

Menurut saya jual backlink ini salah satu alternatif pendapatan yang paling oke. Kita tinggal tulis sesuai keinginan kita dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh pembeli backlink atau penyedia jasa backlink (marketplace backlink istilahnya), kemudian publish. Kerjaan selesai. Yha, nulisnya emang cukup lama sih.....

Cuma marketplace backlink itu memiliki ketentuan dan syarat yang berbeda-beda, dan kebanyakan tidak boleh menggunakan blog domain gratis. Sebagai orang yang berpegang teguh pada hal hal prinsip untuk selalu menggunakan blog gratisan, ada 1 marketplace backlink yang ternyata memperbolehkannya. Berikan aplaus yang meriah untuk, Mediabacklink. 👏👏👏

Baca blog sambil nyemil hokben secara pirtual

Sejauh ini, Mediabacklink satu-satunya marketplace backlink yang menyediakan layanan backlink berkualitas yang masih memperbolehkan domain gratis menjual backlink. Wah, bahagia sekali saya! Sangat cocok dengan ideologi blog ini ngakak walaupun dengan syarat rangking alexa dibawah 2,5 juta. Oiya, maksudnya domain gratisan ini yang belakang url-nya masih ada blogspot.com atau wordpress.com ya.

Setelah mendaftarkan blog ini di dengan sangat-amat-mudah di Mediabacklink, ketika sudah memenuhi syarat / TOS, maka blog akan tampil pada semua pembeli backlink di Mediabacklink. Sehingga si pembeli backlink dapat dengan mudah menemukan blog kita untuk membeli paid content atau sponsored content. Biasanya yang dilihat oleh advertiser yaitu kecocokan kategori blog dengan konten yang ingin di promosiin. Selain itu ada Domain Authority (DA), Page Authority (PA), rangking Alexa, dan Google Index.

Silahkan dinikmati di abang-abang bakso bakar terdekat kota anda

Sebagai pemula dari penjual backlink ini, ada fitur-fitur yang sangat saya sukai:

Email Penjualan Backlink

Emang keliatannya sepele, tapi ini sangat important tsah buat saya. Yaitu notifikasi penjualan backlink melalui email. Biasanya kan email udah otomatis update melalui smartphone kita. Bisa gawat kalau misal kita jarang liat marketplace, dan ternyata orderan numpuk. Mending jika masih belum lewat batas waktu, kalau udah bisa rugi bandar abang dek...

Gratisan-friendly

Bukan Gratisan-fredly ya. Ntah ini termasuk fitur atau ngga wkwkwk tapi ini satu-satunya alasan kenapa saya bisa jualan di marketplace ini. Jadi buat teman-teman yang ingin menjual backlink dengan konten berbayar menggunakan blog gratisan, tentunya Mediabacklink menjadi satu-satunya tempat bercocok tanam jualan (sepengetahuan saya ya).

Tampilan Sederhana

Sederhana disini bukan seperti rumah makan yang harganya tidak sederhana itu ya, alias emang beneran sederhana dari segi apapun. Desainnya to-the-point dan kolom-kolom yang diisi cuma sedikit. Tidak perlu mengisi jenis kelamin, NIK KTP, alamat, isian kartu keluarga dan sebagainya. Cukup nama lengkap, email, nomor telepon. Sudah bisa mendaftar. 

Paling ya untuk menambahkan blog ada kolom tambahan yaitu URL blog, nama blog, kategori blog, dan bahasa yang digunakan.

Emang sih, kolom yang paling kita suka itu yaitu input nomor rekening ya. Rasanya kalaupun kolomnya banyak, tetap bersikukuh buat ngisi apapun yang terjadi 😅

Oiya buat teman-teman yang mau daftar Mediabacklink, bisa melalui link pendaftaran ya.. Sebut saja link orang dalem 😅

March 8, 2021

Maghribi ya Habibi

Menurut saya, waktu menulis yang paling enak itu setelah maghrib. Sangat personal, tapi beberapa tulisan saya terakhir ditulis pada waktu maghrib. Termasuk tulisan ini.

Ya walaupun seringnya "cari ide" lalu postingnya jam 10 malam :))

Tapi tetep, mulainya setelah maghrib.

---

Sebagai profesi freelancer serabutan dengan jam terbang yang cukup-tidak-begitu-tinggi-tinggi-amat, emang sulit mencari waktu yang pas untuk melakukan hobi. Hobi nulis ya, kalau hobi nyiram tanaman mah ga perlu mikir 😅

Jadi selain ngoding, hobi saya itu menulis, nyiram tanaman, dan fotografi

Ilustrasi maghrib buat yang ga tau 😅

Ok lanjut. Saya udah pernah coba nulis di waktu pagi sekitar jam 09.00 - 12.00 pagi, tapi terlalu banyak distraksi karena dibarengi dengan ngumpulin nyawa nemenin anak makan dan main sampai jam tidur. Kalau disaat pagi, biasanya saya habiskan waktu untuk pekerjaan yang simpel-simpel, seperti sarapan dan tiduran.......

Pernah juga siang, sekitar jam 13.00 - 16.00. Nah ini sebenarnya bisa, tapi tidak bisa dijadikan jadwal rutin karena seringnya keluar untuk beraktivitas. Nasib kalau tidak rutin yaitu sering malas karena tidak disiplin. Jadi opsi siang ini coret.

Lompat ke jam malam setelah jam 22, alias setelah anak lagi mau tidur. Waktu ini agak kondusif karena minim distraksi. Tapi, waktu malam adalah waktu untuk pekerjaan utama yaitu ngoding. Ketika pekerjaan utama dan hobi bentrok, maka sebagai manusia yang sesuai kodratnya, tentu saya lebih memilih pekerjaan utama dibandingkan hobi (menulis).

Nyiram tanaman

Setelah lompat, balik ke jam 17.00 - 20.00, ini adalah waktu terbaik karena waktu itu seringnya jam kosong. Walaupun siangnya beraktivitas, seringnya sore udah pulang kecuali bang toyip. Sekitar 1 jam bisa digunakan untuk istirahat, mandi, makan, nyemil, sambil nyiram-nyiram tanaman. Setelah maghrib dan Isya, biasanya waktu yang lengang untuk dapat mengolah ide untuk menjadi tulisan.

Anak biasanya lagi makan malam, jadi seringnya anteng. Minim distraksi.

---

Buat teman-teman, biasanya gunakan waktu kapan saja buat menulis produktif? Ga berlaku buat full-time writer yak :))

March 4, 2021

Membaca atau Menonton?

Ketika di daerah Selatan Indonesia, mengalami kebanjiran, dan Pekanbaru mengalami musim kemarau. Udah seminggu tidak hujan, asap kebakaran hutan sudah muncul di beberapa wilayah Provinsi Riau. Untungnya emang di Pekanbaru belum nampak asap, perkiraan karena pengaruh angin bukan kentut.

Ok, setelah berikrar dengan one day one post kemarin, besoknya udah alpha :))

---

Lanjut ke pembahasan utama. Sejak Youtube booming beberapa tahun yang lalu, popularitas blog semakin turun. Ga ada data kuantitatif sih, tapi ini berdasarkan hati nurani yang bisa menghabiskan nonton Youtube berjam-jam :))

Saya belum tertarik untuk nyoba bikin Youtube. Selain karena peralatan tidak memadai, membuat video yang baik itu emang cukup berat, setidaknya buat saya. Baik dari take video dan post process-nya. Tahun 2014, pernah kolaborasi dengan teman kampus untuk bikin project film pendek. Agak terpaksa emang karena untuk nilai akhir mata kuliah Digital Video Processing. Hasil akhirnya bisa dilihat melalui link Youtube ini ya. Di video ini, saya sebagai kameramen rider nya.


Bagi saya yang suka bikin journal bukan journal akuntansi plis, menulis lebih baik daripada bikin video. Bikin video untuk jurnal pribadi seperti vlog itu rasanya terlalu bar-bar dan bikin tidak menikmati hidup :)) Contoh, misalnya lagi perjalanan ke Eritria. Disaat kita ingin "menikmati" perjalanan, kita harus take video dan memikirkan sudut-sudut aestetik agar videonya bagus buat tayang di Youtube. Oiya, bar-bar disini maksudnya sangat terbuka sekali ya. Kelihatan gitu seluruh sudut pandangnya.

Buat saya yang menjunjung tinggi nilai konservatif tsah, saya lebih suka menulis dan membaca. Kecuali untuk hal-hal tertentu seperti tutorial, unboxing, review dan pemandangan. Selain kategori itu, saya lebih suka membaca. 

Menonton anime atau membaca manga? Saya lebih suka membaca manga karena membaca 1 chapter cukup 3 sampai 5 menit. Dibandingkan nonton anime, saya harus nonton 30 menit. Kalau nonton, kita terpaku untuk melihat secara continuously. Ketika kita skip, kita bisa kehilangan informasi berharga atau bahkan inti cerita. Bayangin nonton anime 30 chapter butuh waktu 900 menit di depan monitor, dibandingkan dengan membaca manga 30 chapter cuma butuh 150 menit.

Dengan membaca. Kita bisa scanning, bagian mana yang kita mau baca. Kita bisa telaah, yang mau kita baca dan tidak kita baca. Terakhir juga kecepatan baca. Orang yang bisa membaca cepat, tentu lebih cepat mendapatkan informasi dan menghemat lebih banyak waktu.

---

Baiklah, ini sebagai pendapat pribadi saja ya. Anggap aja seperti tugas anak SMA untuk membuat paragraf argumentatif secara induktif halah.

February 28, 2021

Monetisasi Blog

Ngeblog sejak Tahun 2008 waktu masih usia 15 tahun. Ratusan tulisan telah terbit sejak saat itu. Baik yang nulis sendiri, comot dari blog lain tanpa sumber ataupun ngetik ulang dari majalah. Duh maapkan daku waktu masih labil :))

Kalau anak sekarang, usia 15 tahun udah jadi selebgram kali yak? 

---

Kalau dulu nulis, ya asal saja yang penting nulis kayak sekarang. Nulisnya juga ga mikir panjang. Beda sama sekarang harus ditulis dengan bener-bener takutnya jadi aib nanti kalau jadi Gubernur :))

Ok, lupakan.

Dari jaman dulu nulis, cuma ada 1 prinsip yang saya terapkan yaitu Tanpa iklan alias no ads. Saya itu kurang suka sama iklan, baik di televisi ataupun internet. Kalau radio dulu suka sih, soalnya iklannya lucu-lucu.

Asupan gizi waktu ngeblog dulu, Timtim. eh Tam.

Terhadap iklan ini saya agak-agak idealis. Bahkan, blog ini menghasilkan duit setelah bertahun-tahun lamanya dari tulisan berbayar (bukan iklan nyebelin). Dan sejak Tahun 2008 juga saya udah menjadi pengguna setia adblocker. Jadi mon maap, teman-teman yang memiliki Ads dari berbagai publisher, ga keliatan disaya. 

Karena dari dulu saya sudah pakai adblocker, jadi di Youtube saya itu ga ada iklan sama sekali. Dan ketika saya nonton Youtube pakai laptop orang lain dan ketemu iklan, disaat itu lah saya mulai jadi anak cupu yang ga tau skip ads. 

---

Tahun 2021 ini, sepertinya idealisme saya ini berubah ngakak. Jadi saya merencanakan blog khusus untuk dimonetisasi. Kemarin niatnya blog ini saya monetisasi, tapi ternyata harus menggunakan Top Level Domain (TLD) menjadi syarat. Dengan idealisme 1 lagi, blog ini insyaallah akan tetap di blogspot gratisan, sampai google bangkrut kapanpun

Eits, untuk tulisan berbayar blog ini masih terbuka kok :))

February 26, 2021

Lucunya Kota Pekanbaru

Berhubung ini blog bukan GNFI, boleh lah saya cerita tentang bad news dikit tentang Kota Pekanbaru. Eh, bukan bad news juga sih, tapi "lucu". 

Perkiraan saya, sejak Tahun 2017 akhir, kota Pekanbaru ini punya ciri khas "Kota Gelap".

---

Bayangin aja jalan utama di tengah kota Pekanbaru, jam 7 malam, gelap gulita. Beneran gelap gulita udah kayak jalan lintas Pekanbaru - Padang. Lampu kota yang padam ini disinyalir kuat karena belum bayar tagihan listrik. Perkiraan saya mungkin lupa isi token kali ya. 


Dan ini ga cuma 1-2 kali terjadi ya, tapi udah berkali-kali. Jadi ketika lampu kota yang biasanya mati tiba-tiba hidup, rasa senangnya membuncah gitu karena saya ga perlu mengeluarkan energi berlebih untuk membuka diafragma lensa mata saya gede-gede untuk melihat jalan kota tsaaah

Apa mungkin itu tujuan Pemerintah ya untuk membuat masyarakatnya happy? Kalau aja itu lampu kota nyala terus kan, warga kota jarang merasakan syukur.

---

Lampu kota yang padam ini cuma secuil masalah di Pekanbaru. Masih banyak lagi masalah lainnya. Tapi tenang, kita selesaikan masalah pribadi kita dulu baru urus masalah kota ya. Kecuali buat walikota, urus dulu masalah kota baru urusan pribadi ya *puk puk walikota*.

Oke cukup sekian tulisan hari ini, terima kasih!

February 20, 2021

Jalan Buntu

Mon maap, ini judul bukan majas alegori seperti tugas Bahasa Indonesia adik-adik sekalian. I mean, this is literally dead end.

---

Hidup di jalan buntu itu ada ples mines nya. Mungkin bagi beberapa orang takut akan kesepian akan hadirnya mamang bakso atau batagor yang lewat, this is not for you. Cuma 3 tukang ini yang dengan amanah menjalankan tugasnya melayani pembeli di jalan buntu ini, yaitu tukang sayur, tukang ikan, dan tukang antar paket.


Bagi saya yang suka keheningan, tinggal di jalan buntu paling ujung, merupakan nikmat. Saya bisa membuat essay 200 kata tentang hal ini. Tapi,  hari ini, saya memilih hanya yang ples-ples. 

3 biji untuk yang kepo berapa biji ples plesnya.

---

Pertama, bisa main di tengah jalan tanpa takut diseruduk babi kendaraan. Emang kadang ada biawak lewat si, cuma ya sesekali aja kalo laper. Ah ini mah, di tengah kota juga ada ya. Oke, jadi di tengah jalan* itu kita bisa melakukan hal-hal apa saja. Contohnya, tiduran, lari-lari bareng anak, kadang ya bakar ayam bisa juga, paling enak tu bikin hajatan tanpa ganggu jalan warga sekitar paling ya son sistem aja yang ganggu sekomplek noh.

Selanjutnya, relatif lebih aman ya. Mungkin hal ini disebabkan karena udah lemes duluan ga ada jalan keluar. Malah kadang ter-skip aja gitu dari peredaran. Cuma ya tetep aja ini relatip kalo dibandingkan sama rumah kapolda yang ditengah kota yak.

Oke sip.

* Buat yang belum tau

February 17, 2019

Web Portfolio

Beberapa hari ini tidak enak badan dikarenakan sinusitis kambuh. Buat yang belum tau, sinusitis bukan bentuk kecintaan yang berlebihan terhadap perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring. Sinusitis merupakan infeksi pada jaringan sinus yaitu pada bagian kiri kanan hidung dekat tulang pipi. Untuk lebih lengkapnya, bisa baca artikel ini ya. Takut terlalu bermanfaat kalau saya ketik ulang disini.

Nah, asumsi saya, hal ini dikarenakan asap. Bukan asap kebakaran hutan, tapi asap kebakaran sampah. Saya masih takjub sama orang-orang yang masih membakar sampah di halaman rumahnya.  Ga ada etikanya. Kalau asapnya untuk hal bermanfaat ga ada masalah, misal asap bakar sampah tadi bisa digunakan untuk mempercepat laju pertumbuhan bakteri Lactobacillus Casei pada pencernaan.

Nyatanya, mempercepat pelepasan hormon adrenalin untuk memaki dan mencaci.

Pengecualian untuk asap sate padang dan ikan bakar, saya masih tolerir sih. Mukadimah penuh emosi kali ini disponsori oleh tetangga saya yang nilai PpKN nya dibawah rata-rata.

---

Setelah menemukan jati diri dengan membuat Curriculum Vitae edisi 2017, saya pikir sudah tepat waktunya untuk membuat web portfolio. Membuat web portfolio yang komprehensif, enak dibaca dan menarik itu susah. You have to know yourself first, kemudian mencari hal apa yang bisa dijual lalu ditulis dengan bahasa yang menarik dalam layout yang bagus.


Untuk saat ini, web portfolio saya kira-kira progress-nya udah 85%. Rencananya ada fitur blog juga di portfolio ini, untuk sharing hal-hal yang berfaedah dalam bahasa Inggris. Kalau blog Andiebuytank ini rasanya, biarkanlah begini saja. Saya tidak ada berniat untuk menggunakan domain berbayar, mengubah isi, ataupun menggunakan platform lain untuk blog ini. Biar tetap ngeblog rasanya.

Dalam proses pembuatan portfolio ini juga memudahkan saya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saat interview pekerjaan. Hahaha.

---

Saya rasa tidak hanya desainer yang perlu membuat portfolio, tapi semua orang baik dibidang kreatif ataupun non-kreatif sebagai showcase karya, penghargaan, kontribusi, organisasi dan lainnya.

Jadi, adakah teman-teman yang sudah memiliki web portfolio? I'll love to see it!

February 7, 2019

Ngga Mau Rugi

Menurut saya, media sosial yang paling menguntungkan itu adalah Instagram. Banyak sekali promo, event atau giveaway di media sosial ini dibandingkan dengan Facebook atau Twitter. Tidak heran, according to Social Samosa, Indonesia menempati posisi ke-4 pengguna terbanyak di Instagram dengan 59 juta pengguna pada Tahun 2018. Faktor jumlah penduduk sepertinya berpengaruh besar.

Di Instagram, saya 'royal' sekali dalam mem-follow akun. Saat ini, following saya 703 yang terdiri dari international brand, local brand, klub sepak bola, akun dakwah, portal berita, organic things, dan lainnya. Dengan following segitu aja, saya udah merasakan information overload. Gimana yang following-nya udah ribuan akun?

---

Balik ke giveaway, paling seneng itu di Instagram kalau udah ada giveaway atau kontes yang syaratnya ga begitu banyak. Sepanjang pengetahuan saya di Instagram, giveaway atau kontes di Instagram ini ada beberapa jenis, seperti:
  1. Komentar dengan tag 3/5 orang, pemenang dipilih acak
  2. Komentar saran/kritik tentang produk/merk, pemenang ditentukan oleh pemberi hadiah
  3. Repost gambar, pemenang dipilih acak
  4. Foto bebas/tertentu dengan hashtag tertentu, pemenang ditentukan acak
  5. Foto bebas/tertentu dengan hashtag tertentu, pemenang ditentukan oleh pemberi hadiah
  6. Foto bebas/tertentu dengan hashtag tertentu, pemenang ditentukan dari jumlah likes
Nah, yang paling sering saya ikutin yang nomor 1 dan 2 karena gampang. Walaupun emang dengan konsekuensi peluang menang pun sedikit, karena biasanya yang ikutan juga banyak sesuai tingkat kemudahannya. Konsepnya ikutan giveaway model begini, comment and forget. Kalau menang alhamdulillah, kalau kalah kan ya udah lupa.

Secara pribadi, poin 6 itu yang paling sulit bagi saya untuk menang karena jumlah akun ternak teman yang *uhuk* minim. Untuk point 3 sampai 5, saya sering itung-itungan untuk ikut.


Hitung-hitungannya yaitu berapa jumlah orang yang ikutan, besarnya hadiah yang didapat, serta effort (bikin foto atau bikin caption) yang harus dipikirkan/dikeluarkan untuk ikutan giveaway atau kontes tersebut.

Suatu saat di Tahun 2018, muncullah sebuah info kontes di Instagram. Kontes foto dengan teman 'IT untuk Negeri' dengan hadiah 2,5 juta untuk juara 1, 1,5 juta untuk juara 2, dan 1 juta untuk juara 3. Tambahan untuk semua juara yaitu voucher training 4 juta. Kontes ini diadakan oleh salah satu lembaga training IT terbesar di Indonesia.

Dari sisi kontestan, anehnya, yang ikut kontes ini cuma 17 orang. Padahal dari sisi hadiah, wah besar sekali menurut saya. Terus pertanyaan berikutnya muncul apakah giveaway ini kredibel? Tapi saya mengabaikannya, karena penyelenggaranya salah satu lembaga yang besar.

Kalau dilihat dari kacamata probabilitas, kemungkinan menang itu besar sekali. Bayangin saja dari 17 orang, yang diambil pemenang 3 orang. Berarti peluang menang sekitar 17,6%. You can't miss this one.

Terakhir, dilihat dari sisi effort yang dikeluarkan cuma modal foto sesuai tema, plus caption yang agak paripurna. Ditambah yang ikutan kontes, banyak yang tidak sungguh-sungguh (asal jadi yang penting ikutan). Ah ini kontes yang perfektus in corpore sano.

Akhirnya, saya posting foto diatas, foto stok Tahun 2015 lalu ditambah caption yang berambisi buat menang panjang dan niat. Bisa dilihat melalui link ini.

Dan ternyata dari hitung-hitungan saya, benar. Saya terpilih jadi juara 1. Perpaduan teori probabilitas, kemauan yang besar karena hadiah, dan strategi yang tepat dapat menjadikan kita menang di medan perang. Tentu saja itu semua tidak terlepas dari takdir Allah juga ya.

---

Oiya, teori diatas merupakan uji materi yang kedua. Sebelumnya saya juga pernah menang giveaway kaos kaki dengan strategi yang sama namun jenis giveaway poin ke-2 (scroll lagi ke atas). Besar harapan saya untuk melihat teman-teman menang giveaway yang saya tidak ikutan dengan menggunakan strategi saya diatas. Strategi diatas dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.

Kalau misalnya hadiahnya tidak sebanding dengan effort yang dikeluarkan, sebaiknya tidak usah ikutan. Misal foto manjat tebing, tapi hadiahnya cuma pulsa 10 ribu, lebih baik diabaikan. Saran saya juga, lebih baik giveaway atau kontes dengan jumlah likes terbanyak dihindari kecuali banyak ternak akun atau punya massa yang melimpah ruah.

Terakhir, banyak-banyak follow akun local brand, karena banyak sekali giveaway yang terselip disana. Hindari akun-akun berbau 'Ibu dan Anak' karena probabilitasnya kecil sekali untuk menang dan bersaing dengan emak-emak yang berhasrat menang giveaway. You can't win.

Sekian, terima saran dan masukan serta masakan. 

February 5, 2019

Too Broke to Microsoft

Komputer pertama yang saya miliki yaitu komputer Pentium 2 dengan Operating System (OS) Windows 98 di Tahun 2000. Waktu itu dibeliin oleh ayah saya. Monitor tabungnya masih diletak di atas casing PC, ala-ala kasir mini market gitu. Waktu itu isinya aplikasi kasir full game, seperti Doom, Dangerous Dave, dan Prince of Persia.


Hingga tahun 2008, yang saya tau OS itu cuma Microsoft Windows. Waktu SMA, saya mulai tau OS lainnya seperti Ubuntu. Terima kasih buat anak kuliahan yang dulu datang ke sekolah dengan pamerin Ubuntu lengkap dengan 3D Compiz-nya. 

Mulai saat itu, saya tau kalau Windows itu ternyata berbayar dan Windows yang selama ini saya pakai yaitu bajakan.

Saking seringnya saya pakai aplikasi bajakan, menggunakan aplikasi crack itu sudah lumrah, udah ga kayak dosa lagi. Bahkan dulu aplikasi-aplikasi crack itu dijual dalam bentuk DVD dan dibanderol dengan harga 50 ribu rupiah. Rasa-nya dulu beli DVD aplikasi itu udah beli aplikasi original padahal mah kena tipu.

---

Tahun 2019 ini, saya hijrah dari Microsoft Windows setelah lebih dari 18 tahun bersama, mulai dari Windows 98, Windows XP, Windows Vista, Windows 7 sampai Windows 8.1. Bukan karena saya ga suka produk Microsoft Windows, tapi karena 'too broke to Microsoft'. I can't afford the price for now.

Dihitung-hitung, aplikasi bajakan yang sering yang saya pakai:
  • Microsoft Windows 8.1, harga sekitar 2 juta
  • Microsoft Office 2013, harga sekitar 1,4 juta
  • Adobe Photoshop CS6, harga 11 juta
  • Adobe Ilustrator, harga 6,2 juta (untuk 1 tahun versi CC)
Jadi hampir 20 juta. Udah bisa beli ultrabook dengan spesifikasi tjanggih itu mah. Daripada beli software yang tidak terlalu saya butuhkan, so I decided to move on. Saya coba beralih ke aplikasi gratis.


OS gratis yang saya pilih yaitu Elementary dengan base Ubuntu 18.04. Saya pilih Elementary ini karena tampilannya cakep bener. Jadi ga perlu konfigurasi yang aneh-aneh lagi, tinggal pakai lah istilahnya. Selain itu juga OS ini dibangun dengan base Ubuntu yang komunitasnya besar jadi banyak referensi kalau terjadi error. Rencananya pengalaman menggunakan Elementary OS ini, saya buat 1 tulisan khusus yang detail.

---

Kepindahan saya ke open source dengan pertimbangan kerjaan saya yang ga butuh-butuh amat aplikasi berbayar selain OS. Untuk keperluan ngoding PHP, saya cuma perlu web server, database server, text editor dan browser. Semua aplikasi tersebut sama, semuanya gratis.

Emang berat awalnya pindah OS, saya juga. Terasa kikuk, yang dulu pakai Photoshop, sekarang pakai GIMP. Dulu pakai Microsoft Office, sekarang pakai LibreOffice. Dulu nginstall printer gampang bener, sekarang susah bener ga bisa-bisa.

Tapi 1 hal yang paling dasar, yang ga bisa dibohongin yaitu, saya nyaman sekali pakai aplikasi original. Jadi ga ada keraguan lagi, penghasilan yang didapat halal atau tidak. Karena emang pembajakan ini sama saja dengan "mencuri" hak pemilik aplikasi. Apalagi saya, sebagai pengembang aplikasi tau rasanya aplikasi yang udah dibuat dengan susah payah, digunakan secara illegal.

Saya juga belum full hijrah ke aplikasi original, di komputer kantor masih pakai Windows bajakan karena kantor tempat saya bekerja belum menghargai hak-hak pembuat aplikasi. Tapi minimal, laptop saya udah pakai aplikasi original. Ya, minimal udah ada kemajuan untuk hijrah dari aplikasi bajakan. Jaga-jaga nanti kalau di akhirat ditanya.

Sekian, terima hibah windos dan offis aseli.

Sumber foto: Dangerous Dave | Elementary OS

November 1, 2017

Cicilan Ringan, DP Rendah

Seberapa banyak dari kita yang pengen punya handphone baru? Mobil baru? Motor baru? Kerjaan baru? Dan baru-baru lainnya?

Insyaallah banyak banget yang mau, saya juga mau sih.

Tapi.....?

Saya lebih memilih untuk menyayangi dan merawat yang saya punya hari ini. Baik itu pekerjaan, handphone, motor, dan lainnya. Karena ini yang saya punya, sedangkan yang saya inginkan masih jauh di toko engkoh.

---

Bukan berarti saya anti-beli-barang-baru ya, sekali lagi saya orang yang perhitungan. Saya perlu niat saya ketika membeli barang. Meluruskan niat, supaya tidak mubadzir. Seperti contoh kemarin, saya beli handphone baru karena handphone lama saya rusak dan tidak bisa diservice. Nah ini alasan beli barang baru yang acceptable.

Niat yang unacceptable itu seperti, ikut-ikutan trend, bosen pakai yang lama, karena tetangga baru beli, ataupun karena cicilan ringan. Untuk alasan-alasan seperti ini, sebaiknya tidak perlu beli barang baru, karena alasan yang tidak urgent.


Sering sekali orang datang menghampiri saya, nyuruh buat ganti motor. Alasannya macem-macem, ada yang bilang motornya kekecilan untuk saya yang besar, lebih cocok pakai motor besar, umur motor udah mau 7 tahun dan banyak cicilan dengan DP ringan.

Biasanya ketika kita membeli suatu karna ingin, biasanya untuk bahagia. Percayalah, cicilan ringan dan dp rendah itu bukan resep untuk bahagia, karena orang yang berhutang itu tidak ada bahagia-bahagianya. Lebih baik merawat dan menyayangi yang kita punya sekarang, daripada berandai-andai sesuatu yang belum kita miliki. Karena itu jau-uh sekali.

Selain karena urgensi-nya, kita bisa merencanakan untuk membeli barang. Saya sebut metode Long Time Planning (LOTINING). Sebagai contoh, "saya ingin beli TV baru 2 tahun lagi". Dalam periode itu kita nabung dengan metode apapun, lalu ketika sudah 2 tahun, beli TV baru. Kelemahan metode ini membutuhkan waktu yang lama dan melatih kesabaran serta ke-istikomah-an kita melihat barang diskon mendadak.

Bisa juga dengan metode one in, one out (OIOU). Ketika membeli barang baru, maka barang lama harus keluar. Bisa dengan memberikannya kepada yang membutuhkan atau dijual.  Metode ini memiliki kecenderungan yang lebih teknokratis dibanding metode awal. Metode ini efektif apabila storage kita pas-pasan dan melatih hati kita untuk ikhlas memberikan / menjual barang pribadi kita kepada orang lain.

Atau metode yang saya gunakan sekarang, wait until its broke (WAUITBRO). Tunggu ketika suatu barang rusak, baru ganti. Tapi hanya berlaku untuk barang yang sudah kita punyai sebelumnya. Metode yang cukup ampuh bagi saya, namun akan adanya kecendrungan untuk merusak-rusakan, me-hang-hang-kan, dan memukul-mukulkan barang lama untuk secepatnya mendapatkan barang baru.

---

Keingingan itu jika diturutkan, 2 gunung emas tidak akan cukup. Perlu metode-metode khusus dan jitu untuk ngerem hawa nafsu kita membeli barang. Secara teori, bersyukur dan merasa cukup adalah metode yang paling ampuh untuk mengendalikan hawa nafsu. Walaupun secara praktek, sangat sulit dilakukan.

Posting ini juga sebagai catatan untuk saya sendiri untuk meluruskan niat ketika membeli barang baru, dan tidak khilaf melihat barang-barang bagus yang sedang diskon.

Posting ini juga semoga menjadi motivasi teman-teman untuk tidak khilaf yang dalam waktu dekat ini akan menghadapi ujian Hari Belanja Online Nasional.

Terakhir, berhutang dengan apapun bentuk dan caranya, tidak akan membuat hidup tenang. Apalagi yang ada riba-nya.

Sekian khutbah singkat saya, terima voucher belanja diskonan.

October 12, 2017

Cerdas Cermat

Mengingat setelah kecewa dengan Sony M4 Aqua yang telah rusak kemarin.

Menimbang dengan sedikit rejeki berlebih, banyaknya cashback di marketplace tertentu, pertimbangan keuangan yang matang hingga akhir bulan, pengaruh cairnya es di kutub terhadap hasil pertanian, dan ketimpangan pendapatan pada daerah pesisir laut.

Saya memutuskan untuk membeli handphone baru dan bukan merk Sony.

---

Mungkin banyak yang bingung antara perbedaan orang pelit dan perhitungan. But, I know. Perbedaannya apa? Jika dihadapkan dengan kebutuhan primer atau sekunder selalu mencari yang paling murah tanpa pertimbangan. Nah, kalau perhitungan, selalu mencari yang terbaik dengan harga yang tidak selalu murah.

Perbedaannya, yaitu pertimbangan.

Saya termasuk orang yang perhitungan, jadi ketika saya memutuskan untuk membeli suatu barang, saya akan cari review, kelebihannya apa, kekurangannya apa, pelayanannya bagaimana, klaim garansi seperti apa, perbandingan dengan produk sejenis gimana, sehingga apabila dikumpulkan bisa jadi thesis.


Dan pilihan handphone baru saya, HTC One (M8). Handphone ini salah satu handphone terbaik..... pada tahun 2014. Saya belinya second like new halah tetep aja second.

Handphone ini pada tahun 2014, harganya bisa mencapai 9 Jutaan. Sekarang saya beli dengan harga seperlimanya. Alhamdulillah dapat dengan kondisi yang baik dan mulus. Perbedaan dengan handphone baru, saya belinya ga pakai unboxing terlebih dahulu halah banyak gaya.

Menurut saya, ini salah satu smartphone android dengan desain terbaik. Flawless! Desain unibody dengan bahan alumunium (90%), dual front-face speaker, dual camera jauh sebelum iPhone 7+ dateng di tahun 2016. Selain itu, saya juga males banget liat brand handphone sekarang dengan model-model yang hampir identik, apalagi setelah banyak merk-merk baru hadir yang billboard-nya dimana-aja-ada.

Dengan desain sempurna (setidaknya bagi saya), memang saya agak mengesampingkan spesifikasi hardware. Tapi hardware tersebut masih sangat sangat layak untuk digunakan pada tahun 2017. Lagian saya gunain cuma buat social media, foto dan light gaming, bukan hardcore gaming. Jadi yang penting asal ngga lag aja. Emang apalagi yang penting selain ngga lag? Kalo saya sih no.

Dengan harga segini, jika dibandingkan dengan handphone baru merk lain, saya rasa tidak ada yang bisa menandingi HTC One M8 ini. Mulai dari desain, kamera, speaker, manajemen memori dan interface. Jika ada kesempatan, nantinya saya akan bikin Deep Review handphone ini.

---

Untuk teman-teman yang pengen/ingin/mau/berkeinginan untuk membeli handphone baru dengan budget yang ga begitu besar tapi tetap bagus dan prestise tetap tinggi, membeli handphone second tidak ada salahnya. Asal belinya dengan seller yang jujur dan amanah. Perlu diperhatikan juga bukan barang rekondisi (biasanya dengan segel garansi resmi yang belum rusak, bukan segel bikin baru). Kemudian fisiknya bagus dan original.

Jangan beli terlalu murah dan terlalu mahal.

Pastikan tidak ada masalah terhadap handphone tersebut. Caranya, dengan banyak cari-cari review di internet, pastikan tidak ada masalah susah cari signal, cepat panas dan lainnya.

Terakhir yang paling penting, belilah dengan metode cerdas cermat. Cerdas ketika mempertimbangkan dan cermat ketika meneliti. Paragaf-paragaraf diatas salah satu contoh penggunaan metode cerdas cermat ini.

Sekian dari saya, terima cash dan kredit.

September 26, 2017

Leather Craft

Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, saya sangat amat menyukai leather craft. Kerajinan kulit. Khusunya yang limited production alias diproduksi terbatas. Karena biasanya dibuat secara handmade dan dibuat dengan hati. Tsah.

Bukan produksi massal, yang machine-made, profit-oriented dan lack of innovation.

---

Leather / kulit ini bisa kulit apa aja, bisa domba, buyaya, kuda, kebo, sapi dan lainnya. Cuma yang saya khususkan disini kulit sapi.


Kulit sapi bukan buat kerupuk jangek / kulit ya. Walaupun ya emang enak kalau dikasih kuah gulai. Mak.

---

Dilihat dari sejarahnya, material kulit ini punya sejarah panjang bagi peradaban manusia. Digunakan sekitar 1400 tahun sebelum masehi, jauh sebelum younglek lahir ke bumi. Material ini digunakan diseluruh penjuru dunia dikarenakan durabilitas-nya yang sangat kuat.

Selain kuat, material kulit ini dapat digunakan untuk apa aja (versatile). Bisa sepatu, jaket, gelang, case handphone, jok motor, jok mobil, topi, pouch, sarung tangan, tas, sendal dan lain-lain-lainya (saking banyaknya).

Kalau saya sangat suka wangi kulit-nya, ini yang membedakan kulit asli dengan kulit kw super. Genuine leather yang banyak dipasaran juga biasanya hanya kulit dengan kualitas yang... ya begitulah. Bukan kualitas yang bagus, tapi ya tetap kulit asli.


Kasta paling tinggi pada kulit sapi adalah: Full Grain Leather. Kulit bagian atas dengan semua grain-nya, dapat berubah warna dengan sangat baik namun susah untuk digunakan.

Kasta dibawahnya ada Top Grain Leather dan kasta paling bawah adalah Genuine Leather.

Kulit dapat berubah warna, atau bahasa lainnya Patina. Ini hal yang saya juga sukai dari material kulit. Saya biasanya suka membeli aksesoris kulit dengan warna Natural atau Coklat Muda / Tan. Nantinya seiring waktu, bisa berubah warna menjadi dark brown atau dark red tergantung jenis kulit, jenis penyamakan dan perawatannya.

Patina ini nantinya akan berbeda-beda pada tiap orang. Walaupun produk yang diberi sama persis. Ini karena medan yang yang dilalui si pengguna berbeda-beda. Ada yang ga dirawat, ada yang sering kena hujan, ada yang pernah jatuh ke sungai, ada yang digigit kucing, ada yang selalu dibawah terik matahari, ada-ada aja.

Nah, saya sangat menyarankan untuk tidak membeli kulit dengan warna hitam. Karena nanti, patina-nya tidak kelihatan.

---

Kesimpulannya, material kulit udah ada dari jaman dahulu kala, terkenal akan durabilitas dan versatile-annya dalam membuat apapun. Walaupun harganya relaitf mahal, tapi sepadan dengan keawetan dan ke-classic-annya. Ketika membeli leather craft, usahakan jangan warna hitam karena patina-nya nanti tidak kelihatan.

Sangat-sangat banyak local brand Indonesia yang jual leather craft dengan limited quantity, full of innovation dan handmade. Selain itu, biasanya menggunakan material kulit dengan kualitas terbaik. Karena ketika suatu barang dibuat handmade tapi material tidak bagus, alhasil pekerjaan sia-sia. Ya gak sia-sia juga, tapi ya sayang aja gitu ketika effort tidak sesuai dengan hasil akhir.

Sekian dari saya, terima kerupuk kulit pake kuah gulai.

September 12, 2017

Es Mambo

Hal yang paling membahagiakan saat SD saya adalah, saat istirahat beli Es Mambo di kantin. Harganya dulu Rp. 50 sen. Rasanya macem-macem. Ada rasa stroberi, kopi atau kacang hitam. Belinya dulu ga pakai mikir itu pakai air mateng atau air mentah. Who cares?

---

Akhir-akhir ini, saya kecanduan makan/minum es mambo. Harganya Rp. 1.500. Saya beli di pinggir jalan. Jualannya pakai mobil.


Jadi jualan-jualan yang lagi nge-hits di Pekanbaru itu, jualan pakai mobil. Saya sebut ini Pedagang Kaki Empat. Kalau dulu modal beli gerobak sekitar 5-7 Juta Rupiah, kalau sekarang 5-7 Juta Rupiah untuk DP mobil bekas *abaikan*.

Saya SD itu sekitar tahun 2000 awal, es yang dulu harganya 50 sekarang jadi 1.500. Terjadi kenaikan harga 30 kali lipat. Dari analisis saya, peningkatan harga ini bermula dengan meningkatnya harga BBM dan biaya impor kulkas yang terus meningkat *abaikan*.

Maap, maap atas 2 paragraf diatas.

Es mambo sekarang itu enak banget. Dicampur tepung meizena, jadi rapuh banget di mulut. Beda sama es jaman dulu, yg dimakan es dengan tingkat kekerasan setara batu berlian. Terus rasanya lebih beragam, ada alpukat, kacang hijau, buah naga, jagung, mangga, nenas campur apel dan lainnya. Jadi masih ada perasaan kalau es mambo ini sehat.

Untuk kemasan, es mambo jaman dulu dan jaman kekinian masih sama menggunakan plastik.

Jadi, analisis yang saya buat pada 3 paragraf sebelumnya, terjadi peningkatan harga 30 kali lipat terdapat khilaf. Hal ini dikarenakan es mambo 50 sen jaman dulu, tidak dibuat dengan buah dan tepung maizena. Kalau es mambo kekinian ini di-throwback ke masa lalu, bisa jadi harganya 300. Jadi peningkatannya sekitar 5 kali lipat.

Es mambo ini adalah dessert terbaik saya saat ini. Harganya murah (yang paling penting), ada khasiat buah-buahnya walaupun ga tau masih ada nutrisinya atau tidak, enak, menjaga kearifan lokal dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

Akhir kata, belilah es mambo terdekat di kota anda.

Sekian dari saya, terima jasa buat aplikasi tanpa tipu-tipu.

*edisi promosi*

September 8, 2017

Telah Gugur Pahlawanku

Udah hampir 1 bulan handphone saya rusak. Bukan kali ini handphone saya rusak, tapi baru kali ini kerusakan bukan diakibatkan oleh kelalaian saya. 

Tapi emang karena device-nya aja tuh yang bermasalah.

---

Udah dari tahun 2009 saya menggunakan Sony Ericsson (SE). I'm big fan of SE. Mengikuti tiap perkembangannya, walaupun emang cuma mampu beli hape mid-end.


Semua handphone diatas, handphone yang saya gunakan sejak SMA. Semuanya rusak karna saya. Masuk air lah, fleksibel lah, casing retak lah dan lain sebagainya-lah. Alasan saya pilih SE karena UI nya yang saya sangat suka dan desainnya yang selalu outstanding. Prok prok prok.

Agak sedih emang tahun 2014, Sony ambil alih saham Ericsson. Hiks. Terus ganti nama. Terus semua desain handphone-nya seperti kembar siam cuma beda ukuran layar. Premium design is no more.

Tahun 2012, Alhamdulillah saya masih sempat ngicip Xperia Mini Pro dan bertahan hingga 2014. Tahun 2014, karena melihat tidak ada handphone murah dengan desain yang bagus, so I choose HTC One V.

Dan akhirnya, setelah beberapa tahun kecewa sama desain Sony, Tahun 2015 saya membeli Sony Xperia M4 Aqua.

---

Mengingat handphone ini dibeli menggunakan gaji sendiri, sudah sepatutnya dia diperlakukan bak raja dubai. Dibeliin hardcase-nya, dibeliin screen protector yang bagusan dan sangat jarang sekali terjatuh.


Saya beli M4 Aqua ini sekitar bulan Juni 2015. Waktu pertama kali keluar kalau tidak salah. Belinya karena tipis, bagus dan anti-air. Intinya CLBK sama Sony yang telah mengecewakan saya di Tahun 2012.

Jika dibeli dari Juni 2015, berarti umur M4 Aqua ini dengan saya sekitar 2 Tahun 2 Bulan.

Selama 11 bulan, saya menggunakan handphone ini tanpa masalah. Tapi kemudian blue-screen dan lemot. Karena masih garansi, saya service di service center resmi, dan alhasil menunggu selama 2 bulan dengan penggantian mesin.

Setelah itu berjalan seperti biasa. Hingga Agustus 2017, si blue-screen ini muncul lagi tanpa garansi tentunya. 5-7 Harian masih bisa digunakan walaupun lemot luar biasa. Kemudian gugur di medan perang. Terus bawa ke tukang servis handphone, mereka juga angkat tangan karena yang rusak adalah mesin, dan tidak ada parts-nya.

Setelah mencari sana-sini referensi tentang blue-screen ini, sepertinya ga cuma saya yang mengalaminya. Walaupun agak senang karena merasa tidak sendirian, tapi saya tetap merasa tidak senang dengan kerusakan hardware.

Sony Xperia M4 Aqua ini adalah bangkai handphone saya yang paling mulus.

---

Menurut saya, smartphone yang baik itu bukan smartphone dengan harga tinggi dan spesifikasi hardware yang wah, tapi smartphone yang hadware-nya dan software-nya saling support sehingga keduanya bekerja secara efisien dan efektif. Sejauh ini, merk handphone dengan ciri-ciri sebelum kalimat ini cuma Sony Ericsson / Sony dan HTC

2 merk di paragraf diatas hidupnya sekarang kembang kempis, karena penjualannya sedikit, dan terlalu sering merugi. Walaupun begitu, masih banyak user yang tetap menggunakan smartphone dengan 2 merk ini dengan cara mencari barang second like new atau barang baru stok lama (NOS).

Saya termasuk orang dengan tipe seperti paragraf di atas.

Jadi, teliti sebelum membeli, jangan sampai kerusakan mesin menjadi akhir hidup smartphone anda. Harusnya keteledoran anda-lah yang mengakhirinya. Paragraf sesat.

Sekian dari saya, terima kuaci tanpa kulit.

August 23, 2017

Semangat Keagustusan

Walaupun udah telat banget post tentang tujuhbelasan, tapi lebih baik telat dikit aja daripada ngga sama sekali. Betul? Betul kaka...

---

Jadi beberapa minggu hari yang lalu tepatnya tanggal 6 Agustus 2017, kantor saya mengadakan acara Family Gathering. Kalau menurut saya ini acara sangat efektif dan efisien dalam kacamata penganggaran. Mengingat ulang tahun Provinsi Riau tanggal 9 Agustus dan Indonesia 17 Agustus, jadi acara ini bisa memperingati 2 hal ini. Prok prok prok *gemuruh gembira*

Btw, itu logo ulang tahun RI ke-72 maksa begitu ya?

Hal lainnya mungkin biar pegawai bisa menikmati lomba atau acara yang diadakan di lingkungan tempat tinggal. Nice move, pak Kepala. Prok prok prok *gemuruh gembira part II*

---

Intinya ya acara ngumpul seluruh keluarga pegawai, lomba untuk anak kecil dan pegawai plus makan siang nasi bungkus (Panasbung). Acaranya dimulai jam 8 pagi, walaupun saya datangnya hampir jam 9. Tapi masih sempat kok nonton seluruh pertandingan.

Bayangin aja, hari Minggu disuruh datang ke kantor jam 8 pagi. Bayangin.

---

Setelah diskusi dengan rekan satu bidang, saya ikut andil pada tim Tarik Tambang. Hal ini mengacu pada besarnya badan saya. Hahaha. Mereka tidak tahu padahal isinya lemak jenuh. Tapi ternyata pertandingan tarik tambang ini ditiadakan. Mungkin panitia sependapat bahwa tarik tambang dimenangkan oleh tim yang badannya besar-besar dan kurang memupuk rasa kerja sama.

Atau karena hadiah yang sudah habis direbut oleh anak-anak kecil.


Pertandingan Tarik Tambang diatas secara tidak resmi diinisiatif oleh anak-anak kecil tanpa aba-aba panitia. Lucu sekali emang. Padahal tidak ada pertandingan Tarik Tambang U-13. Yang paling penting sih mereka happy, itu tujuannya kan?


Pertandingan Pacu Goni dewasa. Bapak-bapak tidak ada yang mau ikut perlombaan ini. Tapi semua berubah ketika yang juara diimingi-imingi duit. Langsung pada ceria. Padahal hadiahnya duit yang dibeliin handuk *lap keringet*.


Permainan Bakiak. Permainan yang benar-benar memerlukan kerja sama tim yang kompak, komunikasi yang apik dan langkah yang pasti. Alhamdulillah, bidang saya dapat medali perak peringkat dua.


Selanjutnya Makan Kerupuk U-10. Ruame banget yang ikut permainan ini. Cuma ya, saya ga suka permainan ini, saya lebih setuju itu kerupuk diletak di atas piring saya, bukan dibuang-buang abis digigit oleh anak kecil hiks. Dah kena jigong, dibuang dan nyampah pula. Duh.


Maapkan fokus yang tidak jelas kemana arahnya. Saya ga tau nama permainan ini, apakah Gigit Sendok Pakai Kelereng (GSPK) atau Gigit Kelereng Pakai Sendok (GKPS). Intinya permainan ini menjaga keseimbangan pemain, namun memiliki resiko mata juling.

---

Dari sekian banyak permainan yang diadain oleh kantor, hanya satu permainan yang meningkatkan kerja sama tim. Padahal katanya acara perlombaan tujuhbelasan itu meningkatkan kerja sama.

Jadi besok tahun depan, saran saya diadakan acara-acara yang lebih bermanfaat, tapi juga fun, terus ga mubadzir-mubadziran, penuh ilmu dan meningkatkan kerja sama. Apakah itu? *malah jadi tebak-tebakan*

Saya juga ga tau :))

*ditendang*

August 3, 2017

Socks Therapy

Beberapa hari yang lalu, saya menulis review tentang kaos kaki. Ini karena beberapa bulan belakangan ini I really love socks. Selain itu rasanya juga jarang orang yang review kaos kaki sedetail saya kemarin, sampai font-nya segala.

I really love socks. Beberapa bulan ini saya selalu pake kaos kaki kalau keluar rumah. Bukan karena aurat ya. Cuma emang nyaman dan anget banget pakai kaos kaki, apalagi kalau dipakai malam hari. You have to try it.


Btw, Saya tipe orang yang ga akan pernah bisa nyaman pakai sepatu tanpa kaos kaki. Mending pake sendal daripada pakai sepatu tanpa kaos kaki. Karena rasanya aneh, keringetan plus bau. Selain itu, bentuknya juga ga gitu enak dilihat. Sepatu tanpa kaos kaki seperti pria pakai kaos kutang.


Tapi saya pakai kaos kaki tidak cuma saat pakai sepatu aja, tapi saat pake sendal juga. Agak jarang saya liat laki-laki pakai sendal terus pakai kaos kaki, setidaknya di Pekanbaru. Mungkin karena ribet ya, dan biasanya laki disini pada main tanah.


Tapi kalau saran saya, kalau sendal yang dipakai sedal jepit, ga perlu lah pakai kaos kaki. Atau kalau tujuannya ke teras depan rumah ga perlu juga pakai kaos kaki, pakai sendal juga ga perlu *coret paragraf garing ini*.

Sebenarnya selain membuat kaki nyaman, pakai kaos kaki bisa juga jadi style loh. Apalagi kalo kaos kakinya memiliki warna norak yang bagus dan pola yang dewasa, bukan gambar dinosaurus atau shaun the sip. Contoh kasus misal pakai baju putih, celana khaki, kaos kaki biru muda, dan sendal item. Is there anything wrong?


Akhir kata, use your socks wisely. Saya, anggota Tim #SocksAndSandals, sekian terima kaos kaki mahal dan baru dikirim ke alamat saya.