Showing posts sorted by relevance for query film. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query film. Sort by date Show all posts

February 11, 2019

Mungkin, Pensiun Motret Film

Saya masih ingat pertama kali beli kamera analog Lomography Diana Mini yang harganya waktu itu 900 ribu di tahun 2011. Dulu saya beli kamera analog karena biaya eksplorasi kamera digital itu mahal dan rasanya tidak ramah kantong buat anak SMA yang doyan jajan.

Hal yang paling saya sukai dari motret pakai film adalah keseruannya. Kita adalah orang ketiga yang tau hasil foto jepretan kita setelah Allah dan tukang cuci foto. Itupun taunya 2 minggu kemudian. Itupun kalau ga angus/gosong. Belum lagi momen foto yang tidak bakal terulang 2 kali. Tapi, itulah seru-nya.

Ada 2 kata yang dijadikan prinsip sama anak kamera film khususnya toy camera, yaitu expected the unexpected dan perfectly imperfect. Kalau tidak tau prinsip ini dari awal, pasti bakal kecewa sama hasil-hasil dari fotografi analog, khususnya toy camera.


Biaya yang dikeluarkan untuk fotografi analog relatif lebih murah dibandingkan dengan kamera digital. Dulu, kamera film harganya 200-300 ribu, beli film 25 ribu dan cuci foto 25 ribu. Dibandingkan dengan DSLR untuk entry level saat itu harganya sekitar 5-6 jutaan.

Setelah mengetahui seluk beluk dunia fotografi film dan mengingat dulu sedikitnya yang jual peralatan fotografi film, akhirnya saya memutuskan untuk membuat toko sendiri yaitu Kakikuda Store. Dengan modal duit jajan nekat beli kamera dan film di Ebay dan jual di Indonesia. Waktu itu kurs USD masih 10 ribu rupiah.

Walaupun marginnya cukup menggiurkan sekitar 100-300%, tapi pada akhirnya toko tidak balik modal dan gulung tikar. Hal ini disebabkan oleh tingkat kelangkaan produk yang saya jual, lebih menggoda untuk digunakan secara pribadi daripada dijual.

Emang dagang itu perlu istikomah. Istikomah untuk tidak menggunakan barang dagangan.

---

Itu dulu.. Sekarang, karena fotografi film lagi naik daun. Apalagi dipopulerkan sama Tompi yang baru-baru ini jadi fotografer keluarga presiden. Harga film yang dulunya sekitar 10-50 ribu, meningkat menjadi 60-250 ribu. Harga cuci film 25 ribu menjadi 45 ribu belum ongkos kirim. Harga kameranya juga makin selangit.

Hal ini sebenarnya udah saya rasakan di Tahun 2015 dimana harga-harga peralatan film ini makin naik hingga sampai ditahap saya ngga mampu beli lagi. Kodak bangkrut (walaupun sekarang bangkit lagi). Fuji discontinue beberapa produk film-nya. Teman-teman udah pensiun duluan. Komunitas-komunitas fotografi film udah mulai tanpa anggota. Tempat cuci foto langganan tutup. Tanda-tanda terakhir, banyak yang jual kamera. Dan akhirnya saya memutuskan, untuk menjual kamera kesayangan, Minolta Autocord. 


Ketika hobi yang dulu buat kita fun, berubah menjadi not fun. Disaat itulah kita harus berhenti melakukan hobi tersebut.

---

Tapi saya masih menyimpan beberapa kamera film yang collectible seperti Lomography Fish Eye Rob Ryan Edition, Yashica FX-3 Super dari mertua, dan beberapa kamera serta film lainnya. Lumayan kan buat properti foto anak nanti. Hahaha. Belum kalau barang antik, harga resell nya bisa lebih tinggi.

Walaupun pensiun motret pakai film, saya tetap motret pakai sensor alias pakai Nikon D90 yang sudah menemani saya sejak Tahun 2009. Cuma berubah style aja, yang dulunya doyan street photography sekarang ke family photography. Saya pikir, menghabiskan waktu bersama keluarga sepertinya jadi hobi baru saya. It's really fun!

Terakhir, jangan sampai hobi membuat kita lalai.

Sekian, terima hibah Leica M9.

February 22, 2011

Ada Apa Dengan Mini Diana?

ADA APA?! Ada apa dengan Mini Diana?! hahaha. gue lagi kena virus Analog-Fever. semacam penyakit yang demam sama kamera analog, lomo dan toycam. lah bukannya gue punya Nikon D90?! buat apa beli kamera jadul analog kayak jaman dulu?



Kenapa analog? jujur, gue gak ngerasa ngerti pake DSLR. ngerti sih ngerti tapi hasilnya kurang pas. gak ada yang unik dan semua poto gue ya itu, biasa aja. belum lagi buat eksplorasi di DSLR itu muahal. hahah. lensa segini, sejuta. lensa gitu 10juta, lensa gini 8 juta. hahhaa.

kalo di analog, itu duit 10 juta, 5 juta bisa buat beli lebih dari 2 kamera bagus hahha. lengkap sama film-film mahalnya. dan hasilnya itu gak bisa kita kira. hasilnya DUAJUTAPESEN UNIK!! tapi ingat, buat satu foto di analog itu ngga gampang. harus liat film camera, cuaca dan keberuntungan.

dan lagi, eksplorasinya ga perlu beli lensa, cukup beli film. dan tiap film beda hasil jepretannya. beda kamera beda juga hasil jepretannya. intinya, ga ada gambar yang benar-benar persis sama.



pertama kali liat analog sih, ga gitu tertarik sama Mini Diana, karna lebih tertarik sama Diana F+. Karna itu kamera pake Film 120 yang agak susah nyarinya, gue urungin niat. apalagi di Pekanbaru tempat cuci poto dan jual film sangat terbatas.

dan teorinya cuma simple: Dont think, and shoot!

kalo Rulesnya cuma 10 biji: Ten Golden Rules

Terus dua pilihan muncul, antara Fisheye 2 dan Golden Half Frame. karna suatu hal, Fisheye 2 gue coret dari list dan tinggal Golden Half Frame. lalu teman nyaranin buat beli Mini Diana dibanding sama Golden Half Frame.

Features di Mini Diana:


  • Square and rectangular half-frame formats at the flick of a switch
  • Takes all types of 35mm film
  • Shoots up to 72 shots per film on half-frame mode
  • Shoots up to 36 shots per film on square mode
  • Requires standard 35mm film development
  • Ultra-compact and pocket-sized
  • Multiple exposure functionality
  • ‘B’ mode for long exposures
  • Cable release attachment – a Diana first!
  • Sunny and cloudy exposure settings
  • Tripod mount
  • Diana Flash Plug (Diana Flash available separately)
  • Overlap frames across photos for endless abstract panoramas
  • Compatible with the stunning Diana Flash

yang gue suka disini adalah bisa ganti format Half frame (24x17) sama Square Format (24x24). kalo half frame bisa bat 72x jepret dan square format bisa 36x jepret. bisa Multiple Exposure dan ukuran bisa masuk kantong ini yang bikin ge makin suka ini kamera :D

ini dia beberapa jepretan dari roll pertama:





ini pae film Superia 200. satu-satunya film negatif yang ada di Pekanbaru mungkin ini mah XD hahaha.

buat yang pengen milih kamera toycam/lomo bisa download pdf berikut:


buat yang pengen ngeliat hasil jepretan kamera analog juga bisa disini:


Buat yang pengen e-magazine tentang kamera analog/toycam bisa disini:


Buat yang pengen liat-liat berita terbaru tentang kamera analog/toycam bisa liat disini:

August 14, 2021

Sherlock Homeless

Tidak tiap hari saya bahas tentang film. Paling yang sering dibahas adalah film tapi bukan film. Bingung kan? 

Okay, I think this film deserves to be published on this blog. Sherlock Holmes. Abaikan judul tulisan ini.

---

Mungkin lebih tepat disebut serial kali ya, daripada movie atau film. Buat yang belum tau, ada beberapa film terkait Sherlock Holmes ini. Ada 2 yang saya tau yaitu diperankan sama Pewangi Pakaian Junior dan Benedict Cumberbatch. Nah, yang kita bahas yang diperankan oleh Mas Benedict ini, alias Sherlock Holmes the Series.

Sherlock & dr. Watson

Sebagai pria sederhana yang suka Dragon Ball, jujur, saya lebih suka film yang mudah, simpel dan mudah dimengerti (most of the time). Ada beberapa alasan mengapa saya kurang suka menyukai film serial seperti menontonnya butuh waktu yang lama, menguras energi karena kepo episode selanjutnya, dan terakhir banyak bener teori konspirasi yang beredar diantara fans.

Sebagai pria sederhana yang suka film National Treasure, seumur hidup saya hanya nonton beberapa serial. Tidak banyak pastinya. Ada Mr. Robot, Game of Throne, sama Bajaj Bajuri. Ada beberapa serial lagi on my list seperti Breaking Bad dan Money Heist. Tapi jujur, salah satu hal yang paling berat selain menuntut ilmu adalah memulai nonton serial. Jangan sampai seperti Game of Thrones, setelah 7 season yang sempurna, harus berakhir dengan 1 episode terakhir yang merusak semuanya.

---

Sebagai penggemar komik Detektif Conan pada zamannya. Serial Sherlock ini sangat menghibur dengan humor yang pas ala-ala Britania Raya, kasus yang menarik, dan yang paling penting akting seluruh pemainnya sangat sempurna! Baik itu akting secara personal ataupun secara chemistry tiap-tiap pemain. Agak salah emang membandingkan film ini dengan film kartun. Maaf ya.

The Wrong Conan

Kalau dihitung-hitung, mungkin saya udah ada sekitar 10 kali mengulang serial ini. Tentu tidak dalam waktu yang berdekatan ya. Walaupun udah tau ceritanya, tapi tetap aja worth to see ketika dimainkan sama Benedict dan Martin Freeman ini. Ga salah emang kalau mereka berdua masuk MCU bukan ICU. 

Officially, Sherlock the Series ini udah tamat dengan 4 season. 1 season terdiri dari 3 episode dengan waktu tayang sekitar 90 menit per episode. Jadi menghemat energi untuk tidak kepo season selanjutnya dan tentu saja menghapus seluruh teori-teori konspirasi yang beredar terkait Sherlock Season 5. Walaupun ya para penggemar tetap menginginkan film selanjutnya untuk menutup seri ini. 

Tapi menurut saya, dengan akhir yang sempurna di Season 4, Season 5 ini rasanya tidak perlu lagi.  Masih ingat kejadian Toy Story 3 kan? Setelah ending yang sangat sempurna, Toy Story 4 sepertinya tidak diperlukan lagi. Cuma emang ide ini tidak akan diterima baik oleh para kapitalis ðŸ˜…

---

Oke, dengan modal serial yang telah ditonton Mr. Robot dan Game of Throne, pilihan serial terbaik menurut saya adalah Sherlock. Maafkan atas minimnya referensi dan nominasi serial. Mungkin penggemar Money Heist, Breaking Bad, Friends, atau bahkan serial bagus lainnya pada teriak-teriak. Maaf ya, lagian ini kan bukan Golden Globe gitu.


Pada akhirnya, mungkin latar belakang dr. Watson yang menjadi Blogger-nya Sherlock yang bikin serial ini berbeda menurut saya. Mungkin adanya kecenderungan atas kesamaan profesi kali ya. Serial ini berakhir di Tahun 2017, dan menurut saya amat sangat cocok ditonton sampai Tahun 2032. 

Jadi, apa serial favorit teman-teman?

September 4, 2011

Kenapa Analog? Part I

nah ini diaa!! diposting - Diana Mini - kemarin gue cerita dikit kenapa beli kamera analog yaa.. nah sekarang, di posting ini, di posting yang lumayan agak berilmu ini, saya beserta pacar mengucapkan Selamat Hari raya Idul Fitri 1423 H atau lebih tepatnya H + 4 #ditoyorbambu


nah di posting ini, gue ceritain secara lengkap, kenapa pilih kamera analog! cihuy! oiya, abaikan kamera diatas cuss!

oh iya, disini alasan kenapa milih sesuai dengan pengalaman gue yak. dan hasil poto dibawah ini belong to me! eaaa! #berasagantengkaubah

oh iya, satu lagi, disini gue kebanyakan cerita di toycamera ya, jenis TLR ato ASLR-nya nanti aja kalo udah beli kameranya #uhuk.

1. Ringan PARAHH!!

ketahuilah bahwa kamera plastik ini sangat amat ringan. (Toycamera Ria 10:39)

2. Menghargai Photo

mengahargai photo disini maksudnya adalah, kita mengambil suatu momen, melihat kondisi sekitar apakah gelap atau terang, setelah menjepret, terus memprosesnya (jadi klise), men-scan klise tersebut sehingga menjadi gambar digital, nah itu belum tentu hasilnya seperti yang kita inginkan wakakakak #ditoyorkuda. nah dari itu makanya kita akan lebih menghargai sebuah poto dengan kamera analog. #uhuk.

3. Gampang PARAHHH!

ga seperti DSLR ato yg lainnya, pengaturan asa, wb, apperture, shutter speed dll.. dengan toycam, tinggal puter lensa dikit siap jepret.. nah dibawah ini beberapa jenis pengaturan kamera di toycam..



nah ini pengaturan di Lomography La Sardina, pengaturan gampang cuma di shutter yaitu mode Normal, Bulb ato Multiple Exposure dan pengaturan fokus cuma 2 yaitu macro ato free focus. setalah itu jepret!



ini pengaturan di Lomography Spinner Dolphin 360, pengaturan di diafragma doang, kalo cerah pilih yg ditengah, kalo agak mendung pilih yang bawah, mode paling atas dipilih kalo lagi gulung roll filmnya :D abis itu tinggal tarik!



ini Lomography Fisheye No. 2, pengaturan cuma shutter yaitu Lock, Normal dan Bulb ditambah sedikit tombol Multiple Expousre.

4. Eksplorasi Film



film, beda film walaupun kameranya sama menyebabkan hasil yang beda. beda film, beda kamera juga bikin beda hasil. dan jenis film itu rupa-rupa warnanyaa! dan tiap film punya ciri khas sendiri. ga perlu beli lensa lah buat eksplorasi kayak di dslr. ato ribet meng-sotosop gambarnya.

5. Relatif Murah

dibandingin sama DSLR entry level yg harga barunya aja nyampe 4 jutaan, nah, kalo beli toycam, 4 juta itu bisa dapat toycam versi dewa.

6. Buat Koleksi

selain buat moto, toycam yg unik-unik bentuknya bisa dijadiin koleksi berharga! #berasabacamajalah T.T

PEMBACA BUDIMAN! DIPERSILAHKAN ISTIRAHAT MEMBACA!! MINUM KOPI ATO APA GITU YA? #GANYANTE

7. Minimizing Photoshop

mengurangi pemakaian photoshop karna hasil kamera sudah topcer #halah



Fisheye 2 - Lomography 100

8. Redscale without Photoshop!

nah, bikin redscale via film itu sangat gampang, film negatif itu dibalik dan dimasukin ke canister lainnya. tutorial bisa disini - Redscale DIY

hasilnya seperti ini ntar..





Diana Mini - Lucky Color Redscale

9. Eksplorasi Teknik

ga punya duit buat eksplorasi film? nah bisa digunakan teknk lainnya. contohnya Diana F+ bisa liiat tutorial disini - Diana Modifications

ato bisa juga dengan baca free e-magazine contoh seperti Crazy Toycam.

alternatif lain bisa disini jugaa - Tipster

10. Multi Lens

nah ini buat kamera tertentu yang multi lens, yg pernah gue coba cuma Supersampler. dan ga perlu photoshop!!

hasilnya ntar kayak gini..



Supersampler - Kodak Gold 200



Supersampler - Superia 200

11. Multiple Eksposuree!!!

jepret beberapa kali dalam 1 frame!






Diana Mini - Colorplus

12. Light Leaks!!

ada cahaya masuk ke dalam kamera saat terisi film, nah begini hasilnya. kalo kata orang dulu hangus, tapi ini bikin gambar jadi unik!


tungguin part 2 yaaakk!!!


* kepanjangan gak ya? T.T


** semoga dibaca deh ya T.T

February 13, 2013

Kamera 1 - Lomography Diana Mini

OHOY!!! Sejak dua ribu tahun sebelum masehi meninggalkan dunia keartisan blog ini, akhirnya saya telah kembali dengan membawa ilmu dari tempaan pedang Yang Maha Kuasa. Kemudian semua bertanya-tanya kebingungan lalu terjatuh dari kursi goyanggg ~

 --- 

Sebenernya hari ini mau review kamera doang sih acieee. Kamera yang sebenarnya juga udah pernah direview woakaowkaokwako *ngakak sampe ke italia* tapi karna pengetahuan yang dulu masih minim khas anak sekolahan yang suka ugal-ugalan di rumah.. jadi ini

Review Edisi Revisi : Lomography Diana Mini

 
Lomography Diana Mini

Bisa dilihat disini juga : Ada Apa Dengan Mini Diana?
cuma berhubung gambarnya ntah kemana, mending ga usah dibuka haha

technically bisa dibaca disini juga : Microsite Diana Mini 

---

Jadi ini kamera analog gue pertama setelah jaman reformasi. Belinya awal tahun 2011 tapi dulu cuma bisa jepret ngasal doang ga tau teknik sama sekali hahaha.

Ini kamera pertama kali beli tertarik sama multi-formatnya, yaitu Half Frame dan Square Frame. soalnya jarang banget kamera dengan format film 35mm ada yang square format. kalo pake format half frame, memungkinkan kita buat foto lebih dari 72 kali dari sebuah film 35mm dengan 36 exposure. 

Cuma menurut gue mah, half frame ini gantung banget.. cara ngemat film tapi fail hoahwoahwohaowa... hasil half frame itu kayak begini ini

 
 Fuji Superia 200 (Fresh) | Cuaca agak mendung

sebenarnya bisa banget me-maksimalkan half-frame ini jadi sebuah mukjizat (halah) tapi kemampuan masih minim jadi kurang begitu suka hahahaa. gue prefer lebih ke square-format, mirip kakaknya (Diana F+) cuma bisa ngejepret 36 kali. hasil dari square format begini ini

Fuji Superia 200 | Pagi sekitar jam 7

nah kayak begini hasilnya lebih memuaskan ketimbang half-frame XD kata legenda sih,

Diana Mini + Film Slide = Dunia Fantasy

tapi berhubung minim dana, ga sempet nyobain pake film slide.. kelebihan kamera ini juga bisa MX alias  Jupiter MX Multiple Exposure alias bisa jepret beberapa kali dalam 1 frame.. bisa lebih dari 2, tapi mungkin resikonya ntar overexposure (terlalu terang) hasilnya

Kodak Pro Image 100 (expired)

apalagi yaaaaaaa.... kamera ini ringan banget tapi butuh space lumayan besar buat letak kamera ini dalam tas, karena lensanya kayak hidung banteng ini.. 

 --- 


yak, kita lanjut ke kekurangan kamera ini.. ga tau ini masalah umum, ato cuma kamera gue doang yang begini.. jadi kadang film nyangkut di reel dan bisa menyebabkan penyangga sprocket yang ada di reel itu patah (punya gue udah beberapa patah), kalo ga patah, sprocket (bolongan pada film) ini sobek..


nah setelah ditelusuri oleh tim penyelidik, ketika film macet jangan dipaksa putar.. tapi tekan printilan item dibawah diana mini itu, alhasil roll film kita ga bakal macet lagi dewhhhh 

permasalahan kedua adalah tingkat ke-blur-an.. yeahhh! jadi, kalo moto pake diana mini ini, shutter nya agak berat buat ditekan.. karena ini, maka kadang pas nekan shutter, kamera juga ikut goyang.

nah saran gue, kalo moto pake tripod woakwoakwoak cuma kalo ribet bawa-bawa tripod, kalo mau jepret pake diana mini ini, tempelin aja ke muka.. jadi insya Allah kamera ga bakal goyang karena  :

tekanan kamera ke muka kita lebih besar dari tekanan shutter pada kamera  - Issacius Newtunus

jadi kalo roll 1 sampai 5 ngeblur pake Diana Mini, wajarlah selama bukan pake film mahal XD ntar hasil kalo ngeblur, begini nih

Fuji Superia 200 (fresh)

tenang-tenang, poto ini bukan tersangka penjambretan atau penyanyi dangsdut lagi melakukan gerak getar-getar (halah)

permasalahan ketiga adalaaahhh........ fokusnya yang ribet parah! jadi fokusing diana mini ini berada didekat lensa, tepatnya sekitar lensa dalam (warna item).. ga kayak Diana F+ yang fokusnya ringan banget, yang saking ringannya malah kadang missfocus (karena ring focusingnya agak longgar).

nah kalo di Diana Mini musti telaten buat mindahin fokusnya, karena berat (muter ring fokusnya) dan ringnya yang agak kecil bikin susah diatur pake jempol segede unta liar ini *ngalem*

saran buat masalah ini, ga ada. titik segede biji buah Dzarah

Hasil Diana Mini jepretan sendiri coba dimari : Buytank - Diana Mini
---

bagi anda yang tersesat di Google kemudian galau memilih kamera, cari maka carilah dan hati-hati dalam memilih

bagi anda yang mungkin nyasar mencari tugas mata kuliah Sastra Swedia, mungkin ini mimpi buruk

bagi anda yang masih konsisten galaunya memilih kamera setelah membaca posting ini, beli maka belilah sesungguhnnya kamera diciptakan untuk dibeli


---

Akhir kata, silahkan simpulkan sendiri sajalah, udah gede kan? UDAH GEDE KAN?????!!! *ditabok*

June 7, 2013

Kamera 2 - Fisher Price 35mm

Yak, kali ini masuk ke post yang serius lagi. Kali ini ngebahas kamera yang susah ditebak namanya apa. Yang jelas merk-nya Fisher Price (Merk mainan anak-anak) tapi ga ada seri kameranya. Nah yang gue tau ini seri 35mm kali yak haha.. Ayo kita tela'ah kamera ajaib ini!


Melihat Teras

Itu kamera? Bisa dipake? Mainan ya? untuk menjawab itu semua, kamera ini jenisnya adalah Toy Camera. Bentuknya lucu unyu kalo dipake bisa bikin awet muda, minimal ya merasa muda gitu lah..

Masa kamera beginian di review ndie? Ah sudhalah, baca saja *tapok*


Begitu dekat, begitu nyata *lirik provider minta upah*

Hal pertama yang saya suka dikamera ini adalah bentuknya. Mirip goggle buat nyelam. Dan punya 2 viewfinder! Dan terakhir warnanya klop banget, item merah gagah dibalut dengan body kamera yang unyu tapi besar *halah bahasanya*

Lensa kamera ini plastik, dengan focal length 35mm (standard lens) dengan bukaan diafragma 6.8 yang ga cocok dipake pas mendung, apalagi malam. Jadi yang cocok cuma siang hari.



Kamera ini dilengkapi 2 viewfinder, dan 1 flash. Teknik ngeliat viewfindernya itu, kita harus memfokuskan mata kita pada 2 viewfinder tersebut dan akan menghasilkan 1 viewfinder secara ilusi dan bayangan seperti teropong *disepak*

Oh iya, jangan terlalu percaya sama flash kamera ini. Walaupun powernya 2 battere AA, powernya kayak ga ada guna T.T *sedih*


Kalo film chamber (ruang untuk media film di kamera) sama aja seperti kamera film kebanyakan. Bisa motret ketika ada film didalam, atau roda kecil (sprocket gear) diatas itu diputer 8-9 kali.

Tombol flash ada disebelah kiri. Sekali flash dihidupkan, selamanya akan hidup karna tidak ada tombol off flash.

Jadi gimana caranya kalo mau matiin flash? Ada 3 cara dasar mematikan flash ini :
  1. Buka batere (kalo ga sabar)
  2. Tunggu sampe lampunya mati sendiri (kalo sabar)
  3. Tunggu sampe batere nya abis (kalo sabarnya tingkat dewa)

Bagian belakang kamera, dilengkapi film counter. Tempatnya agak aneh, tapi unyuk! *hah*


Nah, ini dia bagian atas yang besar banget. Pokoknya kalo kamera ini masuk tas, ngabisin volume tas deh, jadi lebih baik digantung dileher saja.

Dan itu perintilan kuning kecil di strap ada 2 kan, yang bulet itu untuk menghubungkan strap. Dan yang satunya sebagai kunci enkripsi kamera dari proses berikut ini :


Untuk membuka back door kamera, kalo ga ada perintilan kuning ini, ga bakal bisa buka deh. Terpaksa pake kayu yang ga unyu lagi bentuknya.


Yang kedua untuk nge-rewind film yang sudah habis.

---

Nah segitu review singkat dengan banyak foto untuk kamera ajaib, Fisher Price 35mm ini. Kesan dan pesannya gimana? Hasil foto?

Hasil foto :

Semua hasil pake Agfa Vista 200 Expired 2007, di expose tahun 2012


Cuacanya agak cerah, tp mau mendung. Ada sedikit flare matahari, karena lensa plastik. Hasilnya memuaskan lah.


Cuaca hampir sama dengan foto pertama, cuma tonal-nya beda banget. Ya seperti itu lah film, expect the unexpected XD


Nah ini cuacanya udah mendung mau hujan, fotonya begini ini lah. Grain dimana-mana, tapi ya masih lumayan lah walaupun gelap begini hik


Hampir sama cuacanya seperti foto ketiga, tapi ini lebih mendung lagi.. Grain (bintik-bintik)-nya lebih dimana-mana lagi :)) Tapi objek (Mal Pekanbaru) masih lumayan jelas disini.

---

Kesan dan pesan menggunakan kamera ini,

Pertama itu, bentuknya lucu banget dan cocok banget jadi koleksi. Lumayan rare sih ini, tapi masih bisa ditemukan orang yang jual. Setahu gue, ini kamera ada 2 varian warna, merah-item sama kuning-biru.

Kedua, ga cocok buat dibawa sehari-hari. Karena banyak makan space, pake banget!

Ketiga, ga cocok buat dipake selain cuaca cerah. Usahakan pake film minimal ASA 400 deh, dan bukan film mahal

Keempat, flash-nya ini ga bisa dimatiin manual.

Kelima, pengoperasiannya unik pake perintilan kuning yang udah disebutin diatas tadi. Tapi sangat memudahkan kita saat nge-rewind film, jadi prosesnya bisa cepat

Keenam, selamat mencoba!

---

Semoga yang baca post sampai tahap ini, dengan semangat perjuangan belajar, rela mengorbankan waktunya demi membaca ini, semoga masuk surga! yang paling atas! gue juga!

July 27, 2013

Kamera 3 - Lomography Fisheye 1 Rob Ryan

Yak, kembali me-review kamera lagi setelah ada waktu sengang dan film-film udah di proses baru-baru ini..

---

Kali ini, gue akan kembali review Lomography Fisheye 1 Rob Ryan Edition. World's First Compact Fisheye Camera. Lumayan langka, didistibusikan oleh Urban Outfitters bersama Watermelon Edition. Kameranya seperti ini :


Spesifikasi bisa dilihat di Microsite Lomography, jadi ga bakal ngomongin teknisnya disini.

---

Jadi, kamera ini udah jadi inceran lama gue. Dari pertama kali suka Lomography, kamera kedua yang selalu gue pengen beli itu Fisheye. Cuma, berhubung suka kamera yang rare atau limited edition gitu, dan yang paling suka itu cuma Rob Ryan dan Watermelon Edition yang dikeluarin Urban Outfitters. Cuma udah ga diproduksi lagi :'(

Tapi beruntung kemarin ini dapat yang mint condition, lengkap dus dan segala kitab panduan kamera ini dengan harga yang "ga limited edition", jadi langsung beli!

---

Sebelum punya Fisheye 1, dulu-dulu gue pernah megang Fisheye 2. Nah feel-nya sih hampir sama. Di Fisheye 1 ga ada Multiple Exposure dan viewfinder biasa bukan fisheye viewfinder seperti di Fisheye 2. Tapi kadang malah viewfinder di Fisheye 2 itu bikin bete karna nonjol sendiri diatas kamera, haha.

Kesan pertama kali liat dan pegang kamera ini, imut dan simple!


Simple-nya, bener-bener cuma "Don't think and shoot!". Di kamera ini cuma ada satu tombol yaitu tombol shutter hahaha. Jadi selama cuaca cerah, tinggal tekan tombol shutter deh.

Dan karena Fisheye 1 ini ga dilengkapi dengan fisheye viewfinder seperti di Fisheye 2, dan bentuknya kecil banget kayak ga ada gunanya, dan juga kalo ngintip lebih besar lensa-nya daripada objek foto, lebih baik ga usah dipake. Jadi motretnya pake perpaduan hati nurani dan instinct liar.


Ini dia viewfinder yang ga ada gunanya.

Selanjutnya, kamera ini dilengkapi flash dan sepertinya juga ga ada gunanya. Jadi lebih mending ga usah dipake juga. Oh iya, kamera ini bisa berfungsi tanpa battery yaa! Battery dipake cuma buat flash.


Perhatian juga, jika mau ngegulung film menggunakan winder diatas flash itu, harus hati-hatiiiiii banget kalo ga mau tuas winder-nya itu patah karena terbuat dari plastik atau kara.


Ini dia lensa fisheye yang bisa menangkap 170 derajat objek katanya. Dan pemakaiannya harus hati-hati terutama jari, lenscap, dan orang disamping harus agak jauh dari kamera kalo ga mau ikut masuk dalam frame foto. Lensa-nya plastik jadi rawan banget kalo tergores apalagi kalo jamuran ga bisa dibersihin :'(


Nah untuk Fisheye edisi ini, ada tulisan di belakang kamera yang bertuliskan :
"Such magic is this reassure  and cheer you on this, your great journey. " - Rob Ryan
Buat yang belum tau Rob Ryan itu siapa, langsung meluncur ke portfolio-nya. Karya dia identik seperti stiker didepan kamera ini.



Diatas adalah lenscap karet yang disediakan buat kamera ini. Hati-hati juga selain bisa masuk dalam frame foto kita, lenscap ini juga rentan putus dan ga bisa disambung lagi karena terbuat dari karet.

---

Karena ke-simple-an-nya kamera ini jadi tidak ada pengaturan ASA, maka lebih baik jangan menggunakan film yang kadaluarsanya lebih dari 10 tahun, bisa-bisa fotonya item semua.

Dan mari kita langsung melihat hasil dari kamera ajaib ini. Film pertama yang dimasukkan adalah film slide Fujichrome Tungsten T64 Professional (Expired 2010) yang di-expose pada April-Mei 2013 kemarin.


Bentuk film-nya seperti ini dan hasilnya seperti ini :

Samudera 02 - Pulau Condong, Bandar Lampung

Melawan Matahari - Pulau Condong, Bandar Lampung

Bebatuan - Pulau Condong, Bandar Lampung

Hasil test kedua menggunakan film color negative, Kodak Portra 400VC Expired 2006, yang di expose pada Mei 2013.


Diatas adalah film / canister yang digunakan, dan hasilnya :

Jembatan Biru Bulat - Pekanbaru

Mal Pekanbaru - Pekanbaru

Ospek - Pekanbaru

Starcity - Pekanbaru

Rumah - Pekanbaru

---

Jadi, setelah melihat beberapa keterangan diatas, ada beberapa point penting yang bisa diambil, yaitu :

  • Kalau mau motret, hati-hati lenscap, jari dan orang disekitar tidak berada dekat kamera untuk menghindari masuknya objek tidak diinginkan kedalam foto.
  • Tidak ada Multiple Exposure dan Fisheye Viewfinder seperti kakaknya Fisheye 2.
  • Compact dan simple.
  • Lenscap rentan putus.
  • Lensa super material plastik.
  • Viewfinder dan flash yang seperti tidak ada guna.
  • Tuas rewind rantan patah.
  • Ga pake battery.
Walaupun hasilnya ga se-"Fisheye" kamera Fisheye 2, hasil kamera ini sangat memuaskan. Dan yang terakhir, kamera ini sangat worth buat koleksi atau digunakan sehari-hari! YEAH!! Kalau ada pertanyaan apapun tentang kamera ini silahkan tinggalkan uang receh sebagai tumbal dan sepucuk komentar.

---

Kalau mau lihat foto diatas dalam ukuran besar bisa langsung lihat flickr >> Buytank -  Fisheye Set.

Terus kalau mau ngebandingin hasil Fisheye 1 dan Fisheye 2, bisa langsung lihat set Fisheye 2 di flickr ini >> Buytank - Fisheye 2 Set.

Semua foto kamera Fisheye diatas menggunakan Nikon D90 dengan lensa Yashica ML 50mm 1.9c.