August 1, 2017

Nasihat untuk Pemimpin

Sekedar catatan untuk para pemimpin diluar sana, pemimpin daerah, pemimpin rumah tangga, atau pemimpin pasukan bumi itu datar. Atau sekedar pemimpin seluruh organ tubuh yang dimiliki. Juga bagi saya yang rasa-rasanya masih belajar jadi pemimpin rumah tangga. Jadi bagi yang saat ini adalah pemimpin, anggap ini sebagai "friends-to-friends talk".

---

Memimpin itu adalah amanat yang berat, tidak cocok untuk orang yang lemas lemah. Lemah disini bisa apa saja, bisa itu ilmu, fisik ataupun mental. 


Fisik dan mental bisa aja dimiliki oleh non-pemimpin, tapi si pemimpin harus memiliki ilmu. Ilmu ini juga yang membedakan mana yang pemimpin dan bukan pemimpin. Ilmu ini juga yang nantinya bisa bikin bawahan respect. Karena tanpa respect, itu pemimpin tiap hari di bully sama bawahan. Saya berpengalaman banget karena saya orang yang ngebully orang yang begini.


Kalau misal pemimpin merasa belum cukup ilmu atau pengalaman, bisa tanya baik-baik dengan bawahannya. Catet, dengan cara baik-baik, bukan dengan senonoh. Bawahan pasti juga mau ngasih tau ilmu dan pengalamannya, malah seneng bisa diskusi teori di buku dan praktek di lapangan. Catetan, tanpa ditanya si bawahan bakal diam aja karena lebih enak ngeblog yutuban daripada ngajarin pimpinan tanpa ditanya terlebih dahulu.

Btw, bawahan disini bukan celana ya *gebrak meja*

Ada juga cara lain. Masih dengan kondisi dimana pemimpin ini merasa belum cukup ilmu dan pengalaman tapi sungkan nanya bawahan. Bisa melalui tanya pemimpin yang diatasnya lagi atau mantannya pemimpin. Dengan kemampuan manajerial yang baik, kerjaan bisa didistribusikan ke bawahan dengan baik.

Nah, kemampuan manajerial yang baik ini juga sangat amat penting. Ga mungkin 1-2 staf do all things. Padahal ada 7-9 orang lain yang kerjaannya ngeblog ghibah orang. Misalkan 7-9 orang ini kemampuannya kurang, tugas si pemimpin untuk mengajari atau memfasilitasi mereka agar berkembang menjadi seorang yang cerdik pandai dan dapat menggantikan posisinya kelak.

Cara terakhir apabila paragraf diatas dirasa tidak cocok, yaitu dengan belajar otodidak. Si pemimpin belajar regulasi dengan teliti, melihat situasi lapangan, berfikir pakai hati nurani kalau ada lalu memutuskan hal. Cara ini bisa juga dilakukan bagi IQ-nya diatas rata-rata. Tapi harus siap-siap salah apabila ada yang salah tafsir. Bukan siap-siap salahin bawahan karena salah kerja. Hal ini dapat menyebabkan respect kepada pemimpin yang semakin turun

Akhir kata, kalau cara terakhir tidak berhasil juga, apalagi malah makin kacau, silahkan pemimpin untuk sholat Istikharah plus taubat, lalu mengundurkan diri.

Sesungguhnya pemimpin yang baik adalah yang menguasai ilmu, santun prilakunya, dapat dipercaya, bertanggungjawab, dan dapat menerima masukan. Kita doakan semoga pemimpin kita saat ini dapat seperti itu, dan tentu saja doakan kita juga sama. Sekian, bye

Oiya, saya penganut bumi itu bulat, walaupun sempat menuliskan bumi itu datar di paragraf awal *yakali aja gak tau*

Bye!

---

Referensi: 

1 comment:

Bayu Fajar Pratama said...

Semoga tulisan ini bisa sampai ke tujuannya :D
Eh itu ada gambar yang nggak muncul ndi. Emang begitu atau gimana?